Belajar Memahami RT/RW-net, Internet Rakyat Rp10k/bulan 10Mbps Unlimited

 RT/RW-net
RT/RW-net, teknologi ini identik dengan kang Onno pakar IT di Indonesia. Setidaknya hampir semua orang yang mempraktekan RT/RW-net selalu mengacu kepada nasehar-nasehat yang mengerucut kepada beliau. Riwayat hidup teknologi ini dapat ditelaah lebih detail di link ini. Teknologi Internet murah yang sudah banyak dipraktekan oleh perorangan/kelompok yang beritensi menghadirkan internet murah bagi lingkungan di sekitarnya. Kali ini saya hendak mempelajari cara mempraktekannya, syukur- syukur bisa sukses membuatnya. Amin. Setidaknya ada pengetahuan baru yang saya dapat hari ini (edisi telat belajar :).
Secara umum, teknologi ini bertujuan men-share kapasitas internet ke banyak user (pengguna) dengan tujuan akhir men-share biaya internet ke banyak user sehingga biaya menjadi ringan untuk masing-masing user. Patungan biaya internet, itulah yang mendasari banyak pihak tertarik menggunakan teknologi RT/RW-net ini.
Secara harfiah, teknologi ini membuka mata setiap orang bahwa sesungguhnya internet itu memang murah. Teknologi itu memang murah. 
Sebagaimana asasinya manusia diciptakan itu untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi manusia dan makhluk lainnya di dunia ini. Begitu juga setiap teknologi yang muncul ke publik selayaknya membuat manfaatnya dapat diterima kepada sebanyak-banyaknya manusia di dunia ini.
Sebagai contoh sederhana mempraktekan RT/RW-net adalah sebagai berikut, ketika kita berlangganan internet kecepatan tinggi dengan kualitas paling bagus (premium) dengan harga mendekati Rp 1 juta per bulan (contoh: XL Home, paket Ultimate, Upto 1Gbps, tanpa batasan kuota, 8 Juli 2020). Dan jika dalam satu RT/RW (Rukun Tetannga/Rukun Warga) atau satu cluster perumahan memiliki sekitar 100 rumah. Maka dengan mempraktekan RT/RW-net, biaya Rp 1 juta akan dibagi ke 100 user sehingga setiap user hanya perlu membayar Rp 10 ribu per bulan. Wow kan. Amazing kan. Murah kan. 
Bagaimana dengan kecepatannya? 1 Gbps dibagi 100 user (asumsi digunakan secara bersamaan selama 24 jam), maka masing-masing user kan mendapatkan kecepatan 10 Mbps. Wow kan Amazing kan. Kita bisa bandingkan dengan harga paket di pasaran. Bandingkan kecepatannya dengan teknologi 4G atau 5G sekalipun.

Dengan mempraktekan teknologi RT/RW-net kita hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 10 ribu per bulan untuk mendapatkan 10 Mbps tanpa batasan kuota. Padahal harga pasaran 10 Mbps sekitar Rp 360 ribu per bulan (IndiHome, 10Mbps, 8 Juli 2020).
Ok, biar lebih fair, mari kita membandingkan dengan operator internet yang sama, mari berasumsi bahwa user berjumlah 10 orang. Dengan berlangganan paket Rp 1 juta per bulan maka setiap user akan membayar Rp 100 ribu per bulan untuk mendapatkan internet dengan kecepatan 100 Mbps.  padahal seharusnya kita membayar Rp 349 ribu per bulan (XL Home, paket Family, 8 Juli 2020) jika berlangganan perorangan, bukan koletif sebagaimana RT/RW-net.

Saya yakin kita semua mulai kebayang kan bagaimana teknologi RT/RW-net bermanfaat bagi rakyat. Namun di satu sisi merugikan pebisnis. Bayangkan jika teknologi RT/RW ini disinergikan bersama antara rakyat, pemerintah dan pebisnis. Bayangkan jika setiap rumah dalam satu kota hanya perlu membayar Rp 10 ribu rupiah per bulan.
DKI Jakarta memilik 3,631,882 kepala keluarga (KK) berdasarkan data di halaman website https://data.jakarta.go.id/dataset/jumlahkecamatankelurahanrtrwdankkdkijakarta#

Jika pemerintah DKI Jakarta mempraktekkan teknologi RT/WR-net maka setiap KK dapat berlangganan Rp 10 ribu per bulan dan mendapatkan internet dengan kecepatan 10 Mbps tanpa batasan kuota. Dan Pebisnis mendapatkan omset senilai Rp 36,318,820,000 (Tiga puluh enam Milyar, tiga ratus jutaan rupiah) per bulan. Simbiosis mutualisme ya kan. Semua happy. Rakyat happy. Pebisnis happy (jangan rakus ya).

Comments