Setiap manusia memiliki pertempuran hidupnya masing-masing

Tulisan ini saya buat untuk memenuhi janji saya ke beberapa rekan yang banyak bertanya tentang proses keberangkatan saya ke tanah air. Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran yang jelas, jujur dan seimbang.



Bismillah hirohmannnirohiim,

Saya percaya setiap manusia memiliki pertempuran dalam hidupnya masing-masing. Pertempuran yang hanya dipahami oleh dirinya dan manusia-manusia terdekatnya. Disaat itulah kita dapat melihat secara langsung siapa yang benar-benar dipilih oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjadi manusia terbaik yang didatangkan untuk membantu pertempuran kita. Setiap manusia memiliki pertempuran hidupnya masing-masing. Saya percaya itu. Dan bukan berarti bahwa manusia-manusia yang tidak dipilih-Nya untuk datang itu adalah manusia-manusia yang tidak memberikan dukungan. Bisa jadi, banyak sekali manusia-manusia yang tidak dapat kita lihat secara langsung namun karena doa mereka, karena harapan mereka, karena niat baik mereka, sehingga kita mendapatkan bantuan yang tak terlihat secara langsung namun sangat berarti pula. Bisa jadi, ada pula manusia-manusia yang masih berjuang dalam medan pertempuran yang berbeda dengan kita.

Untuk itu, ijinkan saya untuk berterima kasih untuk hal ini kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mengirimkan manusia-manusia terbaik untuk datang membantu saya secara langsung dan juga manusia-manusia yang membantu saya secara tidak langsung. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu per satu namun itu tidak berarti mengurangi rasa terima kasih saya kepada mereka. Beberapa dari mereka akan tersurat maupun tersirat secara langsung maupun tidak langsung dalam kisah pertempuran saya ini.

Ini kisah pertempuran saya bermulai dari lokasi tempat bekerja saya di suatu daerah berjarak sekitar 5 jam perjalanan dengan bis dari kota Vientiane, ibukota Laos. Ini adalah salah satu negara ASEAN dikelilingi oleh Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar dan China. Ya… China. Yang kita kenal oleh produk Covid-19 dan Wuhan-nya di bulan Desember 2019. Jarak dari lokasi kerja saya ke Wuhan, China, sekitar 1700 km secara horisontal di google map. Jarak ini setara dengan jarak dari Jakarta ke Banda Aceh secara horisontal di google map. Hmmm mulai kebanyang kan sejauh mana dari pusat produk trending itu. Product of the year 2020.

Cukup 3 paragraf saja sebagai pengantar, kita lanjut ke kisah utama.

Sejak muncul kasus positif pertama di Laos, negeri ini memberlakukan  lockdown sejak 1 April 2020 sampai dengan 3 Mei 2020. Rencana cuti kerja bulanan menjadi berantakan dikarenakan product of the year ini dan juga konsekwensi lockdown-nya. Semua penerbangan komersil berhenti di masa itu dan juga hingga saat tulisan ini saya buat pun belum ada tanda-tanda kapan penerbangan komersil untuk jalur Laos ke Indonesia akan pulih. Tidak adanya rute penerbangan internasional langsung dari Laos ke Indonesia menyebabkan adanya ketergantungan yang besar kepada jalur penerbangan komersial internasional di Thailand, Malaysia ataupun Singapura.

Di saat kondisi normal, saya biasanya mengambil penerbangan dari Vientiane (Laos) menuju Bangkok (Thailand) untuk transit beberapa jam dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta (Indonesia) di hari yang sama. Diimportnya product of the year ini ke negara ASEAN dimulai sejak Januari 2020. Saat itu, di Indonesia masih bereforia dengan banjir Jakarta dan belum tertarik melakukan import product of the year ini. Namun Thailand sudah mempromosikan product of the year ini dan lebih gencar lagi di bulan Februari 2020. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi di Thailand, di saat periode cuti akhir Februari 2020 saya mencoba menghindari rute pernerbangan via Bangkok. Saya menjajaki rute penerbangan internasional dari Vientiane (Laos) menuju Kuala Lumpur (Malaysia) untuk transit beberapa jam dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta (Indonesia) di hari yang sama pula. Rute ini sukses dan menjadi alternatif bagi saya. Saat itu kasus di Malaysia masih lebih sedikit dibandingkan di Thailand.

Di awal Maret 2020, Indonesia tampaknya mulai tertarik untuk mempromosikan product of the year ini. Akhir cuti saya di Jakarta saat itu adalah 14 Maret 2020 dan saya masih dapat melakukan penerbangan internasional via Kuala Lumpur dengan aman dan selamat tiba di Laos pada tanggal 15 Maret 2020. Dan 5 hari setelahnya, Menteri Luar Negeri kita mulai membatasi perjalanan masuk/keluar Indonesia dan menghimbau agar warga negara Indonesia yang berada di luar negeri untuk kembali ke tanah air. Jeda 5 hari yang beranak pinak menjadi jeda 55 hari bagi saya untuk berhasil kembali ke tanah air.

Berikut pertempuran saya selama 55 hari itu, cheers.


  • Hari ke 1 sampai Hari ke 5 (16 s/d 20 Maret 2020): 

Bekerja normal tanpa ada rasa khawatir dengan product of the year ini walau jarak lokasi saya ke Wuhan sedekat Jakarta ke Banda Aceh. Di Laos belum ada satu kasus pun muncul ke publik. Dan himbaun Menteri Luar Negeri Indonesia pun masih dianggap sebagai angin lalu oleh kebanyakan WNI disini. Bagi saya, kalau saja saat itu saya menunda 5 hari perjalanan balik ke Laos, mungkin pertempuran ini tidak akan pernah terjadi. Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian.


  • Hari ke 6 sampai Hari ke 10 (21 s/d 25 Maret 2020): 

Penerbangan internasional sudah mulai berkurang drastis. Mulai muncul instinct untuk kembali ke tanah air secepat yang saya bisa. Jadwal cuti berikutnya sesungguhnya adalah 10 April 2020 namun setiap hari selalu muncul perubahan informasi yang sangat cepat baik di Indonesia maupun di Laos, Thailand dan Malaysia. Maskapai penerbangan Malaysia sudah mengumumkan bahwa mereka berhenti operasi. Melihat gelagat yang kurang mengembirakan ini, saya berinisiatif langsung mengatur ulang jadwal cuti menjadi akhir bulan Maret 2020. Saat itu beredar rumor bahwa penerbangan komersial internasional akan berhenti operasi di akhir bulan itu. Okay saya mendapat persetujuan dari atasan untuk cuti dipercepat menjadi tanggal 30 Maret 2020 dan tiket pesawat pun sudah ditangan. Vientiane ke Bangkok dengan Thai Airways dan Bangkok ke Jakarta dengan Garuda Indonesia. Rencana menjadi buyar ketika di akhir minggu itu, Thai Airways mengumumkan berhenti operasi.

Harapan kembali muncul ketika seorang kawan mengirimkan informasi yang beredar di group Whatsapp untuk WNI di Laos di tanggal 25 Maret 2020 sesaat setelah waktu makan siang. Informasi yang menyebutkan bahwa Thai Aiways membuka rute emergency untuk tanggal 27 Maret 2020 saja dengan bantuan Kedutaan Thailand dan KBRI, tentunya dengan persyaratan ketat, salah satunya harus memiliki Health Certificate dan Jaminan Asuransi Kesehatan terhadap product of the year itu.

Saya cuma punya waktu setengah hari untuk mengatur ulang kembali rencana kepulangan ke tanah air. Okay saya kembali mendapatkan persetujuan dari atasan untuk kembali memajukan jadwal. Dan bantuan informasi dari tim travel milik perusahaan tempat saya bekerja mengenai detail pengurusan Health Certificate dan diberikannya Jaminan Asuransi Kesehatan. Dokumen pendukung untuk pengurusan Health Certificate adalah Passport dan pas foto 4x6. Saya mendapat bantuan dari seorang teman lokal untuk mencetak pas foto ini.


  • Hari ke 11 sampai Hari ke 15 (26 s/d 30 Maret 2020): 

Saya memulai perjalanan keluar dari lokasi kerja menuju kota Vientiane pada tanggal 26 Maret 2020 pagi. Namun masih ada satu kendala yang belum terpecahkan saat itu, yaitu me-reschedule tiket pesawat dari tanggal 30 menjadi 27 Maret 2020 dan mengurus Health Certificate dari rumah sakit pemerintah setempat. Dan hasilnya zonk. Tiket tidak berhasil di-reschedule dan tidak ada kabar mengenail penerbangan di tanggal 27 pun. Saya berguman “this is not my day”.

Dan akhirnya saya pun memutuskan untuk mengambil cuti di kota itu selama 6 hari. Namun demikian untuk menjaga asa, saya tetap menjalankan rencana awal untuk mengurus Health Certificate di Mahosot Hospital yang hanya berjarak 1 km dari hotel tempat saya menginap pada tanggal 29 Maret 2020.

Proses pengurusan Health Certificate di Mahosot Hospital sesungguhnya sangat mudah saja. Kendalanya cuma satu, saya tidak bisa Bahasa Laos. Hehehehe. Terbantukan oleh seorang teman yang hendak kembali ke negerinya yang bersama saya mengurus hal ini. Urutan proses untuk mendapatkan Health Certificate dapat di lihat di link ini.

Cuti di Vientiane lumayan mengobati kekecewaan sesaat. Setidaknya saya bisa men-explore kota ini untuk rencana berikutnya. Mundur satu langkah untuk mempersiapkan tiga loncatan ke depan.


  • Hari ke 16 sampai Hari ker 20 (31 Maret s/d 4 April 2020):

Kembali ke loaksi kerja menggunakan bis di tengah hari dengan berbekal keikhalasan yang berbuah dikemudian hari. Hingga sebuah rumor yang muncul sejak 26 Maret pun benar-benar berbuah pahit bagi seantero Laos.


  • Hari ke 21 sampai Hari ker 35 (5 s/d 19 April 2020):

Isolasi penuh setempat pun dilakukan. Aktifitas sehari-hari saya hanya di seputar área akomodasi saja: kamar – tempat makan – kamar – tempat makan – lapangan bola (tentu saja). Hari-hari dilalui dengan berbagai kegiatan untuk menurunkan berat badan.

Ada satu kesempatan untuk kembali ke tanah air kembali muncul saat Kedutaan Korea Selatan men-charter pesawat ke Incheon. Namun kondisi isolasi penuh membuat saya tidak bisa bergerak kemana pun. Ini belum waktunya, guman saya dalam hati.


  • Hari ke 36 sampai Hari ker 45 (20 s/d 29 April 2020):

Hari-hari dilalui dengan mengumpulkan segenap energi positif dari berbagai sumber, salah satunya ya mendengarkan sebanyak-banyak nya suara orang lain melalui podcast, youtube, maupun media sosial lainnya. Memulai Ramadhan pada tanggal 24 April 2020 semakin memicu untuk beramal secara totalitas. Tak ada yang bisa membantu lagi karena penerbangan komersial internasional diprediksi baru akan mulai beroperasi satu bulan ke depan, tidak ada yang bisa memastikan akurasi prediksi ini saat itu. Satu-satunya harapan adalah the power of Ramadhan dan the power of sadaqah. It Works.

Pada tanggal 28 April 2020, seorang teman yang bergabung di group Whatsapp WNI memberi kabar bahwa Kedutaan Korea Selatan kembali men-charter pesawat dari Vientiane ke Incheon untuk tanggal 9 Mei 2020. Loh, kenapa saya tidak bergabung ke group Whatsapp itu saja agar terdepan mendapatkan update dari KBRI. Good idea…

Saat itu juga saya coba konfirmasi info tersebut ke salah satu senior staff di KBRI. Beliau memberikan banyak detail informasi tambahan termasuk prasyaratnya. Okay kita maju selangkah. Bergabung ke group Whatsapp WNI, okay kita maju selangkah lagi untuk kedua kalinya. Saya konfirmasi ke pihak bandara Wattay, okay kita sudah maju tiga langkah. Alhamdulillah, the power of sadaqah.


  • Hari ke 46 sampai Hari ker 50 (30 April s/d 4 Mei 2020):

Setelah kesibukan kerja terselesaikan dengan terkirimnya laporan departemen bulanan dan mingguan secara serentak, barulah pada tanggal 2 Mei 2020 malam hari selepas sholat witir, saya terpikirkan untuk menindaklanjuti informasi adanya charter pesawat ke Incheon untuk tanggal 9 Mei 2020. Saya berkomunikasi ke agen travel yang bekerja sama dengan Kedutaan Korea Selatan untuk menyelengarakan penerbangan ini. Berikutnya mengalirlah segala informasi positif yang mendukung saya untuk melakukan booking tiket seharga $1200 secara mudah. Harga itu termasuk tiket untuk Vientiane ke Incheon dan Incheon ke Jakarta. Booking-nya mudah, namun pembayarannya harus dilakukan via transfer ke nomor rekening BCEL bank (lokal Laos), satu kendala muncul. Berikut dibawah beberapa screen capture percakapan via whatsapp tersebut.









Tanggal 3 Mei 2020 berkurangnya kondisi lockdown di seantero Laos dan memungkin untuk melakukan perjalanan lintas propinsi. Saya pun memutuskan untuk mengambil kesempatan pertama untuk keluar dari lokasi kerja menuju kota Vientiane. Tanggal 4 Mei 2020 pagi saya bergerak dengan semangat “this is my day” dan tiba di kota pada tengah hari, bersegera untuk check-in di hotel memastikan akomodasi selama satu minggu ke depan.

Siang itu juga, manusia terbaik pertama yang dikirimkan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa datang dan membantu saya untuk melakukan pembayaran ke BCEL senilai $1200. Kenapa saya tanamkan predikat manusia terbaik? Karena saya belum pernah melakukan kebaikan apapun yang bernilai sama dengan $1200 kepada dia, namun dengan penuh kepercayaan dia mau membantu memberikan hutang tanpa jaminan apapun. Hanya manusia terbaik yang mampu melakukan itu, apalagi di bulan Ramadhan. Hutang itu akan saya lunasi setibanya di Jakarta. Alhamdulillah saya melakukan lompatan besar hari itu.


  • Hari ke 51 sampai Hari ker 55 (5 s/d 9 Mei 2020):

Saya kembali berkomunikasi kepada senior staff di KBRI Vientiane untuk memberikan update informasi bahwa saya sudah memiliki tiket untuk kembali ke tanah air via Incheon di tanggal 9 Mei 2020. Beliau merespon dengan memberikan arahan yang jelas dan membuat saya tambah yakin bahwa kali in saya pasti berhasil memenangkan pertempuran ini.

Sesuai arahan, saya mengurus Health Certificate dari Mahosot Hospital pada tanggal 7 Mei 2020 dan mengunjungi KBRI Vientiane pada tanggal 8 Mei 2020 untuk mendapatkan surat pengantar untuk kembali ke tanah air. KBRI Vientiane juga menyakinkan saya bahwa nantinya KBRI Seoul akan mengirimkan staff untuk membantu saya saat proses transit selama di bandara Incheon, Korea Selatan.

Beberapa hari terakhir di Vientiane ini, saya akrab dengan aplikasi online taxi bernama Loca. Aplikasi ini mirip seperti Uber, Grab dan Go-Car, sangat membantu saat mengunjungi Mahosot Hospital dan KBRI Vientiane.

8 May 2020, saya berbuka puasa bersama manusia-manusia pilihan dari beda negara. Tak banyak basa basi dalam pertemuan makan malam itu walau pun memang tak terlalu singkat pula. Namun saya harus mempersiapkan diri untuk check out dari hotel jam 9 malam itu. Hanya 20 menit perjalanan dari hotel ke bandara Wattay dan bandara itu sudah dipenuhi orang-orang yang hendak check-in dan beberapa kerabat mereka yang mengantar kepergian mereka. Tepat jam 10 malam, konter check-in mulai melayani calon penumpang. Satu tes wajib yang dilakukan petugas bandara adalah tes suhu tubuh saja. Selebihnya proses check in selayaknya proses normal biasa saja tanpa ada satu dokumen pun yang harus diserahkan/ditunjukan kepada petugas check-in. Physical distancing yang diterapkan pihak bandara dan panjangnya antrian membuat saya membutuhkan waktu 1 jam mengantri untuk akhirnya mendapatkan boarding pass untuk Vientiane ke Incheon. Boarding pass Incheon ke Jakarta belum dapat diterbitkan karena memang beda maskapai dan rentang waktunya lebih dari 24 jam.

Antrian di imigrasi pun berlangsung normal saja, tidak satu dokumen pun diminta atau diserahkan/ditunjukan ke petugas. Alhamdulillah semua nya lancar dan aman saja. Di ruang tunggu ternyata masih beroperasi duty free dan café. Lumayan sambil menunggu 1 jam di ruang tunggu, saya bisa menikmati makanan dan minuman café di Laos untuk terakhir kalinya. Proses boarding ke dalam pesawat pun berlangsung normal pula. Saya memilih untuk masuk ke pesawat di deretan akhir dan ketika sampai di dalam pesawat, wow full seat. Bismillah. Saya perketat masker di wajah untuk menghindari kekhawatiran lebih lanjut.

Bismillah, berserah diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Kun Fayakun. Tetap berpikir positif. Ikhlaskan semua kondisi yang terjadi. Ini medan pertempuran yang harus dilalui.

Pesawat melakukan take-off tepat waktu di tengah malam 9 Mei 2020. Kebanyakan dari penumpang adalah tentu saja warga negara Korea yang hendak kembali ke negaranya. Ada pula beberapa warga negara asing lainnya yang hendak transit di Incheon menuju negara mereka masing-masing. Ada juga beberapa pekerja dari perusahaan lain di industri yang sama dengan saya, yang hendak kembali ke Australia. Kebetulan hanya saya saja warga negara Indonesia yang ikut dalam penerbangan itu.

Alhamdulillah, pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Incheon Terminal 1 sekitar jam 7 pagi waktu setempat. 50% progress tercapai dan saya cukup bahagia dengan pencapaian ini. Saat keluar pesawat dan tiba di bangunan Terminal 1, sudah ada staff KBRI Seoul yang menunggu. Super sekali kinerja KBRI Vientiane dan Seoul. Beliau menemani proses transfer dari Terminal 1 ke Terminal 2. Percakapan mengalir begitu akrab dan saya lebih banyak bertanya tentang kondisi WNI di Korea Selatan dibandingkan bertanya tentang proses transit. Ini pertama kalinya saya datang ke bandara Incheon namun saya tidak merasa khawatir lagi saat proses transit, walaupun lamanya waktu transit akan lebih dari 24 jam. Hehehe.

Proses transfer dari Terminal 1 ke Terminal 2 adalah sebagai berikut:

  • Menyerahkan form kecil berisi pernyataan kesehatan bagi setiap penumpang. Form ini sudah diberikan saat di pesawat dan saya pun sudah mengisi nya saat masih di penerbangan. Petugas hanya melakukan tes suhu tubuh dan menanyakan tiket penerbangan lanjutan. Saya pun menunjukan eticket yang telah saya download di smartphone.
  • Lalu berjalan mengikuti tanda petunjuk untuk penumpang transit, tentunya dengan masih ditemani staff KBRI Seoul. Prosesnya sama persis dengan alur di bawah ini yang diberikan oleh agen travel kepada saya saat sebelum keberangkatan.

  • Saya 2 kali naik kereta shutle di dalam bandara untuk transfer antar gedung. Mirip seperti kereta shutle bandara KLIA di Kuala Lumpur, Malaysia. 
  • Kereta shutle dari gedung Terimal 1 menuju gedung Concourse dan lalu berpindah kereta shutle dari gedung Concourse ke gedung Terminal 2. Dan semua proses itu tanpa melalui gerbang Imigrasi.
  • Kendala hanya muncul di gedung Concourse satu kali, saat akan melewati pintu masuk otomatis ke ruang tunggu kereta shutle menuju Terminal 2. Ternyata pesawat lanjutan saya, Garuda Indonesia, belum terdaftar di sistem sekuriti bandara untuk hari itu karena memang masih belum masuk rentang waktu 24 jam dari jadwal keberangkatan. Staff KBRI Seoul berdiskusi dengan petugas sekuriti dalam bahasa Korea dan petugas sekuriti menyarankan untuk memutar melalui pintu masuk manual. Tentunya ada petugas sekuriti lainnya yang berjaga disana namun staff KBRI Seoul dapat menyakinkan petugas sekuriti tersebut dan memperbolehkan saya melewati pintu masuk. Lalu melanjutkan naik kereta shutle ke Terminal 2.
  • Tiba di Terminal 2, staff KBRI Seoul menjelaskan secara lugas tentang beberapa tempat penting seperti Transit Hotel, Transit Lounge dan departure gate yang biasanya digunakan Garuda Indonesia. Satu putaran mengelilingi Terminal 2 bersama lumayan membuat saya familiar dengan tata letak Terminal ini. 
  • Tidak ada konter khusus untuk Garuda Indonesia di Transit Lounge area, sesuai arahan staff KBRI Seoul maka saya melakukan web check-in untuk penerbangan selanjutnya via website Garuda Indonesia. Alhamdullilah web checkin sukses dan boarding pass nantinya akan dapat di print di depature gate saat keberangkatan.
  • Staff KBRI Seoul pun pamit dan rasa terima kasih mendalam saya haturkan kepada beliau atas segala bantuannya selama proses transit.


Setelah memberi kabar ke keluarga di Jakarta dan beberapa sobat via pesan singkat tentang keberhasilan saya tiba di bandara Incheon Terminal 2, kemudian saya coba untuk mendatangi Transit Hotel yang jaraknya 8 gate dari Transit Lounge area. Ini jarak yang lumayan panjang untuk berjalan kaki walaupun sambil windows shopping. Jam menunjukan 9 pagi saat tiba di Transit Hotel, sayangnya tidak tersedia kamar kosong pagi itu dan mereka meminta saya untuk kembali lagi pada jam 4 sore. Saatnya mencari cara untuk killing the time sampai sore hari.





Selayaknya terminal bandara internasional, Terminal 2 bandara Incheon bertebaran banyak duty free yang masih beroperasi. Namun hanya beberapa café dan lounge saja yang buka, kebanyakan café dan resto tidak beroperasi. Ada 1 minimarket 7/11 beroperasi di lantai atas hanya berjarak 1 gate dari Transit Hotel. Saya memilih kembali ke Transit Lounge area untuk beristirahat beberapa jam untuk memulihkan kondisi tubuh. Area ini cukup luas, ada ruangan dengan lampu penerangan sangat bagus untuk area bekerja atau membaca buku, bersebelahan dengan ruangan “nap zone” yang disediakan untuk para penumpang transit yang hendak tidur sejenak, seperti saya. Lumayan untuk melepas lelap 1 jam. Berdekatan pula dengan toilet sehingga membuat para penumpang transit nyaman untuk berlama-lama di “nap zone”, tampaknya ada beberapa dari mereka yang berencana bermalam di “nap zone” pula. Terdapat ruang untuk shower/mandi nampun sedang tidak beroperasi saat itu untuk menghindari penyebaran product of the year. Overall, ini area yang cukup nyaman untuk melepas lelah sesaat walau tidak lebih nyaman dari hotel.

Di pojok sebelah “nap zone” terdapat Lounge yang menyediakan beraneka macam makanan dan minuman khas Korea dengan cukup membayar KRW 26,400 untuk 3 jam. Lumayan untuk mengisi perut kosong karena saya melewatkan waktu sahur saat di pesawat dan memang penerbangan dari Wattay ke Incheon tidak menyediakan makanan/minuman untuk menghindari penyebaran product of the year. Hari itu saya memutuskan untuk tidak berpuasa dan berharap dapat melakukan sholat jama’ nanti sore di Transit Hotel. I hoped it.



Selepas 3 jam dan tubuh cukup kuat untuk melangkah, saya coba untuk mengeksplor daerah Terminal 2. Saya perhatikan masih ada beberapa jadwal keberangkatan pesawat untuk ke beberapa negara hari itu, juga beberapa penumpang transit yang tampaknya sama seperti saya melakukan killing the time.

Sekitar jam 4 sore, saya kembali ke Transit Hotel berharap tersedia kamar untuk saya. Ternyata masih nihil. Dan mereka meminta saya untuk kembali lagi 1 jam kemudian. Alhamdulillah saat kembali ke hotel sekitar jam 5.20 mereka memiliki kamar untuk saya. Harganya sekitar KRW 169,400 untuk menginap selama 15 jam saja. Waktu yang cukup untuk saya beristirahat dengan lebih nyaman, dan ini berarti saya akan check-out sekitar jam 8 pagi esok hari nya, hanya selisih 2 jam dari jadwal keberangkatan pesawat saya ke Jakarta. Dan yang terlebih penting adalah saya dapat mandi dan sholat di tempat yang nyaman masih sesuai waktu. Alhamdulillah.




Esok harinya, 10 Mei 2020, penerbangan Garuda Indonesia menuju Jakarta sesuai jadwal dan tepat waktu. Banyak juga beberapa WNI yang bekerja di Korea Selatan juga pulang ke tanah air menggunakan pesawat itu. Beberapa dari mereka tampak menenteng banyak belanjaan dari Duty Free. Saya jadi teringat saat kemarin staff KBRI bercerita bahwa WNI yang bekerja sebagai unskilled labour saja di negara ini dapat memiliki penghasilan mencapai Rp40juta per bulan. Fanstatistik. Jadi teringat gaji saya saat ini. Hahaha. Alhamdulillah. Rezeki dan nasib sudah ada yang mengatur sejak kita dikandung oleh ibu kita. Jadi kita tinggal menjalaninya dengan mudah saja dan penuh rasa syukur.




Pesawat mendarat dengan aman dan tiba di bandara Sukarno Hatta Terminal 3 sekitar pukul 15.50 waktu setempat. Gugus tugas product of the year sudah sigap menyambut dengan ramah dan mengarahkan para penumpang dengan teratur. Ada 1 form kesehatan yang perlu di isi namun tidak ada satu dokumen pun yang mereka minta atau diserahkan/ditunjukan dari kita. Alhamdulillah semua protokol dan test dilalui dengan hasil menggemberikan. Dan saya menuju gerbang Imigrasi dengan penuh saya syukur dan setibanya di luar gedung bandara, sudah banyak taxi yang menyambut. Saat itu taxi online tidak melayani area bandara. Si burung biru dengan formasi mobil elektrik nya sudah sangat nyaman untuk pulang ke rumah dan menjalanin karantina selama 14 hari di rumah sesuai arahan dan sertifikat kesehatan yang diberikan oleh petugas kesehatan bandara.


Alhamdulillah.
Saya sudah penuhi janji saya di atas.

Comments